- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Halo!
Wah, sekarang udah 2023. Time flew so fast yeah.
Banyak hal sudah terlewati. Baik atau buruk. Senang atau susah. Semua silih berganti. Gak ada yang benar-benar berhenti, hanya segala hal terjadi silih berganti.
I don't know how to tell it. But, everything seems not good at all. But, not all of that.
Finally I got my first job in January 2022. Tapi itu gk berlangsung lama. Tadinya walau aku tau itu bukanlah posisi yang ku inginkan, melainkan posisi yang paling ku hindari. Tetapi karena satu dan lain hal akhirnya aku terima dan aku jalani. Awalnya ku kira akan baik-baik saja dan aku bisa bertahan mungkin setahun, atau mungkin jadi betah. Nyatanya tidak sama sekali.
Aku yang sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyukai pekerjaan yang ku lakukan, tetapi lingkungan di sekitarku membuat aku merasa usaha ku tidak berjalan baik. Thank you so much to that company, because they gave me an opportunity for my first job and I can go to Jakarta doing something that I will told you later. But so much sorry I can stay for a long time.
Mendengar teriakan, selalu ditanya sedang melakukan apa, selalu dicurigai terkait pekerjaan yang dilakukan, selalu mendengar suara nyaring, menjadi sosok yang salah padahal letak salahnya bukan di aku. Itu benar-benar melelahkan. Pulang dalam keadaan lebih lelah pikiran dan batin daripada tubuh. Bangun dengan keadaan sesak. Setiap hari merasa sakit. Sampai aku bingung, aku yang terlalu berlebihan atau apa. Selama aku bekerja di sana, aku selalu tahan ketika aku harus dimarahi tanpa tau karena alasan jelas apa karena inti utama penyebabnya bukan saya:) Aku selalu tahan dan berusaha ya bodo amat, dengarkan dan lupakan semua ucapannya. Tapi ternyata, lama kelamaan aku kesal. Aku kesal dan aku bendung semua perasaan kesalku sampai aku benar-benar merasa sesak dan nangis. Aku ingat banget, untuk pertama kalinya aku menelepon ke rumah dan bilang aku capek sambil nangis-nangis. I'm trying so hard to stay but it hurts me. But yeah, finallya I can go out. I still remember the way they say that "Why I want to work just with the data, the excel, the computer. Like I will never get anything good from that". Jujur aja, saya kesel banget waktu dikatain "orangtua mu gak bertanggung jawab" "orangtua mu terlalu memanjakan" "kamu kan udah gak kuliah, ngapain di biayain lagi". Mohon maaf Ibu, saya lahir di dunia ini atas kemauan orangtua saya, mau saya kerja atau gak, atau saya masih sekolah atau gak, itu urusan orangtua saya kalau mau memilih masih ingin membiayai saya. Bukan berarti saya jadi gak bisa mandiri. Kalau dikeluarga Ibu berlaku sistem selesai pendidikan berarti selesai membiayai anak, bukan berarti seluruh keluarga lainnya harus seperti itu. Saya sudah berusaha dengan baik dan hak saya kalau saya mau berhenti. Dan lagi, saya gak ada melanggar kontrak sama sekali kok kamu jadi senewen sih.
Selain itu, aku juga kesel banget waktu dikatain "kamu mau jadi apa kalau cuma kerja sama data sama angka" "kamu gk bakal dapat apa-apa" "pekerjaan yang paling enak itu jadi sales, jadi marketing, kamu bisa kenal banyak orang dapat banyak ilmu" "kalau kamu cuma kerja sama data dan angka gk akan ada perkembangan apa-apa". Mohon maaf Bapak, your dream is not my dream. If you like your job doesn't mean I had to do the same thing like you do. Setiap orang punya preferensi pekerjaan impiannya masing-masing. Aku harap Bapak bisa lebih belajar menghargai pilihan orang lain ya. Dan satu lagi, kalau minta saran terus dikasih saran, eh tapi yang ngasih saran malah disidang padahal sarannya juga membangun kok. Ada baiknya dari awal gk usah minta saran dan pendapat kalau gk terima sama omongan orang lain ya:)
Lucu deh kalian.
Huft.
Memang setelah berhenti butuh waktu yang lama untuk dapat pekerjaan baru. Tapi akhirnya I got what I want. Walau cuma dalam waktu singkat, aku senang aku bisa melakukan suatu pekerjaan yang aku cintai. Dan aku belajar banyak dari pengalaman itu. Aku juga dikelilingi lingkungan yang lebih baik, orang-orang yang baik walau kadang ya yang namanya hal menyebalkan pasti selalu ada. Aku merasa walau cuma sebentar aku benar-benar diterima di tempat itu. Thanks God, eventhough just for a little time but I really enjoyed it.
And now, I'm trying to get a new job again. Hope I don't have to wait too long yeah. Amin.
Ohiya, aku mau cerita sedikit kejadian paling menyedihkan yang pernah aku alami.
Akhir November 2021, gk perlu sebut tanggal soalnya aku juga lupa. I still remember that night I got a message from someone I love that he want to broke up. Suddenly everything dark. I love him, so much. Walau waktu itu ketemunya bisa dihitung jari, tapi aku benar-benar tulus sayang dan cinta samanya.
Kejadian itu benar-benar buat aku kayak mayat hidup selama 2 hampir 3 bulan. Hehe. But thanks God, aku tetap dikasih kesempatan untuk jadi pasangannya. Semoga untuk selamanya. Amin.
Tapi walau waktu itu dia minta putus, gak tau kenapa aku yakin banget dia masih sayang cuma mungkin beberapa hal terlalu rumit dikepalanya sampai kejadian itu terjadi. Gak usah diceritain lengkap-lengkap, soalnya hal buruk harus dilupakan. Hehe.
Aku ada baca sebuah novel karya Andrea Hirata yang berjudul Padang Bulan. Di salah satu halaman, aku menemukan beberapa barisan kalimat yang menurut aku "I know that feel". Begini kalimatnya:
"Namun, ternyata, jika seseorang hanya memikirkan seseorang, bertahun-tahun, dan dari waktu ke waktu mengisi hatinya sendiri dengan cinta hanya untuk orang itu saja, maka saat orang itu pergi, kehilangan menjelma menjadi sakit yang tak tertanggungkan, menggeletar sepanjang waktu."
Mungkin kebanyakan orang akan beranggapan "ah lebay kamu" "berlebihan amat sih" "masih banyak cowok lain di luar sana" "ngapain coba sama dia udah jahat begitu"
Ya, aku gak membenarkan perlakuannya yang menyakitiku, tapi satu hal yang aku alami dan aku rasakan sendiri terserah mau dianggap alay atau lebay. Menyadari dan membayangkan bahwa di hari-hari ku kehadirannya tidak akan ada lagi benar-benar membuat aku merasa jatuh, sakit, terdiam, sepi dan bingung. Aku akui aku sudah sering sendirian, kesepian. Tapi ketika aku alami kalau saat itu dia mau pergi, rasa sepi yang aku rasakan jauh lebih menyakitkan daripada yang biasanya. Itu benar-benar mematahkanku.
Tapi, aku bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan karena aku masih punya kesempatan untuk melanjutkan hari-hari ku dengan kehadirannya. Dia jadi salah satu bagian dari hidupkku sejak dia masuk ke kehidupanku. Sama kayak aku akan merasa timpang tanpa keluargaku, maka aku juga akan merasa timpang tanpa dia.
Okay sekian cerita random ini.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar