Sepenggal kisah


14 Juli 2020.
3 tahun telah berlalu sejak awal aku mulai memasuki dunia perkuliahan. Siapa sangka, ternyata aku mampu bertahan hingga sejauh ini. Berat. Bagiku, serentetan kejadian yang sebelumnya telah terlewati merupakan hal-hal berat yang membuatku berkali-kali berpikir untuk menyerah, untuk berhenti, bahkan berpikir untuk hilang saja dari kenyataan hidup ini. Namun, berulang kali pun pikiran buruk itu menghantuiku, berulang kali juga aku masih tetap mempertahankan keberadaanku di sistem kehidupan bumi ini. Aku patut bersyukur, karena aku masih dianugrahi akal sehat untuk dapat meneruskan perjalananku di kehidupan ini. Ya walau ku akui, dibandingkan bersyukur dalam hidupku lebih banyak terlontar keluhan yang kerap datang tiap kali aku mulai merasa lelah dengan apa yang kujalani.

Sekitar 2 tahun lalu, tepatnya Agustus 2018, setelah mendengarkan sebagian ceritaku yang sudah pasti ada keluhannya, seseorang mengatakan kepadaku bahwa aku cukup luar biasa. Bertahan selama 2 semester perkuliahan penuh dalam tekanan, menahan berbagai keinginan untuk mencoba ulang lagi, untukku yang seorang perempuan, menurutnya aku luar biasa. And in that time, menurutku perkataannya cukup menenangkan dan menyenangkan perasaanku, satu dari sekian banyak pertemuan, aku bersyukur Tuhan telah mempertemukan kami. Perkataannya cukup membuatku berpikir bahwa ternyata aku kuat, dan aku mampu bertahan. Dan kini, setiap kali aku berhasil bertahan dari semua ketakutanku dan kekhawatiranku, aku selalu berpikir ‘wah, aku bertahan lagi kali ini’.

Berkali-kali aku bertahan, berkali-kali juga rintangan datang menyambut satu keberhasilanku dengan sebuah rintangan lainnya yang harus kulewatin. Berkali-kali pun aku bertahan, yang namanya kekhawatiran dan ketakutan akan kegagalan itu tak pernah tak hadir. Menurutku, berkali-kali tak berarti selalu akan terjadi untuk setiap kalinya. Dan, ketakutan akan saat itu tiba adalah salah satu penghancur semangat dan pikiran yang tiap kali menghampiriku.

Dan dari semua ketakutan dan kekhawatiran yang menghampiriku, bagiku yang kali ini datang adalah yang paling menyeramkan. Sedikit saja salah langkah, jurang yang dalam telah merentangkan tangannya bersiap untuk memeluk. Berharap tak salah langkah, satu-satunya hal positif yang kupikirkan untuk membantu menenangkanku melalui semua jalan ini. But, after all, I still scared.

3 tahun telah berlalu, 6 semester penuh berbagai macam pelajaran baru. Namun, kalau ditanya hingga detik ini apa yang sungguh-sungguh kudapatkan selama ini, ‘tidak tau’ adalah jawaban yang akan terucapkan. Beberapa hari lalu, seorang teman datang mengunjungiku. Ditengah gelapnya malam, entah keajaiban seperti apa yang sedang berlangsung yang membawanya datang kerumahku. Dari percakapan yang terjadi, satu topik yang cukup mampu membuatku terdiam dan mulai merenung tercipta diantara kami. Karena jurusan yang cukup serupa, kami membahas mata kuliah apa saja yang sudah terlewati. Dan tiba disaat dia bertanya ‘jadi Yul udah apa ajalah yang kau pelajarin’ butuh beberapa detik penuh perenungan sebelum akhirnya terjawab. ‘Entah, akupun kurang tau. Belajar, ngerti, udah lewat mata kuliahnya, beberapa udah terlupa, paling ingat sedikit aja. Gatau aku udah ngerti apaan’ sebuah jawaban yang kuucapkan, yang membuatku sadar kok kayaknya 6 semesterku seperti menjadi sia-sia. ‘Udah 6 semester Yul, kuliah cuma buat naikin sinamot ya, kan gitukan biar ada gelarnya’ ucapnya bersamaan dengan tawa yang muncul dari kami berdua.

Jujur saja, 6 semester terlewati, 3 tahun sudah berlalu, aku sendiri pun bingung udah mengerti apa. Mengerti sesaat, lupa selanjutnya. Semakin bingung kedepannya akan gimana. Dan sekarang, kusadari dan sangat yakin sekali, pasti akan lebih berat lagi dari yang sudah-sudah. Berusaha meyakinkan diri sendiri adalah hal cukup sulit untuk dilakukan menurutku. Berusaha memberi semangat pada diri sendiri tidak semudah ketika kita sedang memberi semangat kepada orang lain. Mudah berkata, sulit dilakukan. Menghilangkan kekhawatiran dan ketakutan dari dalam pikiran sendiri juga bukan hal yang mudah menurutku. Benar-benar butuh tekad yang kuat dan keyakinan yang kuat akan diri sendiri. Keyakinan bahwa kita akan tau jika sudah dilewati, keyakinan bahwa kita akan mampu melaluinya. Keyakinan bahwa menang dan kalah adalah hal biasa yang akan selalu dilalui dalam hidup ini. Keyakinan bahwa jikalau harus kalah, kita harus mampu belajar menerimanya. Meyakinkan diri sendiri untuk mampu menerima kekalahan adalah hal yang aku yakin semua orang pasti akan mengatakan bahwa itu sulit.

Komentar