Rindu


Sudah setahun aku melewati masa-masa kuliahku. Namun hingga detik ini, aku masih saja terjebak dengan kenangan SMA ku, dengan kenangan yang kulalui bersama teman-teman sekelasku. Bagiku, sungguh terasa sulit untuk lepas dari semua kenangan itu. Aku masih saja sering mengenangnya. Aku mengenangnya saat dimana aku tak terlalu nyaman dengan apa yang sedang kulalui saat ini. Aku mengenangnya saat dimana aku merasa sedih. Aku mengenangnya saat dimana aku merasa senang. Aku mengenangnya saat dimana aku merasa kesepian. Aku mengenangnya saat dimana aku benar-benar merindukan semuanya. 

Terkadang, bahkan sering sekali aku membandingkan setiap teman sekelasku dimasa SMA dengan teman sekelasku dimasa kuliah. Salah memang, tak seharusnya aku membandingkan mereka, karena setiap orang punya sifat dan kebiasaannya masing-masing. Tapi, aku tetap saja melakukannya, membandingkan mereka.

Ada saat dimana aku dan imajinasiku memikirkan seandainya saja aku punya mesin waktu seperti yang dimiliki doraemon, aku ingin sekali kembali kemasa SMA ku, memutar ulang semuanya, berulang kali hingga aku benar-benar bosan dan mampu melupakannya. Namun, seandainya tetap menjadi seandainya.

Aku merasa, perkataan yang mengatakan bahwa masa SMA adalah masa yang akan sulit untuk dilupakan benar adanya.

Tahun 2014, adalah tahap awal aku memulai masa SMA ku. Pada awalnya, kuakui aku memang kurang nyaman dengan teman-teman sekelasku. Namun walau begitu, aku tetap senang bisa berada diantara mereka. Aku senang, karena aku masih bisa sekelas dengan temanku Julian, orang yang menjadi mata kedua untukku sejak aku duduk dibangku IX SMP, orang yang selalu meminjamkan bukunya untuk kusalin catatannya, orang yang akan mengajakku bercerita ketika ketiga orang lainnya yang berada dalam kelompok kami tak berbicara denganku untuk waktu yang cukup lama selama aku menghabiskan masa IX SMP ku, dia jugalah orang pertama yang pernah kusukai dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menyukainya sejak beberapa waktu lalu. Aku juga senang, aku dipertemukan dengan seorang teman sebangku laki-laki yang cukup pendiam dan cukup canggung. Aku juga senang, aku dipertemukan dan didekatkan kembali dengan salah satu teman sekelasku waktu IX SMP, dimana sebelumnya komunikasi diantara kami tidaklah begitu baik. Aku juga senang, ternyata aku bertemu lagi dengan lelaki yang telah berkalikali sekelas denganku sejak aku TK hingga akhir SMA, ya walaupun hubungan komunikasi kami tidak bisa dibilang baik. Aku juga senang dipertemukan dengan orang yang sebenarnya bukan orang baru, karena semasa aku SMP aku telah sering mendengar nama dan cerita tentangnya. Dia Dedy, orang yang sejak pertama kali aku berbicara dengannya, dia selalu saja menggodaku dengan berbagai gombalannya bahkan didepan kelas, didepan guru sekalipun. Aku juga senang dipertemukan dengan teman baru bernama Samuel yang cukup seru buat diajak berteman. Masih teringat dengan masa awal-awal SMA ku, ketika teman sekelasku harus dihukum mengutip sampah diseluruh sekolah perkara mereka berfoto bersama hingga naik ke atas meja, kelas kami yang saat itu didekat meja piket, membuat dengan mudahnya guru piket mengetahui kelakuan mereka semua. Masih juga teringat kejadian dimana hp teman sekelasku bisa hilang secara tiba-tiba hingga 2 kali kejadian atau 3 kali, aku lupa. Masih juga teringat, ketika waktu itu aku sedang sakit kepala, dan disaat yang sama kami belajar olahraga. Dikarenakan guru yg ditunggu lama sekali datang, waktu itu kuputuskan saja untuk merebahkan kepalaku di atas meja hingga akhirnya aku tertidur. Dan ketika tiba-tiba saja aku terbangun, kelas sudah kosong, hanya aku seorang, dan ternyata semua temanku sudah sibuk bermain di lapangan,haha. Dengan santainya aku menyusul mereka, hahaha. Aku juga ingat dengan guru kimia pertamaku di SMA ini. Bu Tuti namanya. Belajar kimia sama dia membuat kalian akan berusaha sekeras apapun demi mendapatkan nilai bagus dan gak kena serentetan kalimat-kalimat yang cukup tidak enak untuk di dengar. Masa-masa kelas X adalah masa dimana belajar kimia merupakan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Setiap kali ibu itu memberikan latihan soal untuk dikerjakan, dia sering sekali menetapkan waktu untuk menyelesaikan, dan biasanya dia hanya kasih waktu sebentar karena soal yang dikasihnya juga paling banyak 5 dan menurutnya itu mudah tapi menurut kami sebagian soal itu cukup sulit. Tapi dengan seperti kami semua jadi berpacu untuk belajar dan dapat nilai. Ketika dia mulai menghitung mundur dari angka 10, maka disaat itu juga kalian semua akan menemukan kondisi kelas dengan suara ricuh yang meneriakkan “tunggu buu” “sabarlah buu” “wee ini yang nomor terakhir gimanaaa” “aduh ini gimanaaa tinggal satu lagi” atau teriakan seperti “ayo wee kumpul cepat” “yang ini tuh kayak gini terus gini terus….” “ini buuu” “cepat wee cepatt” “wee wee geser woy mau lewat aku”. Bukan hanya suara yang ricuh, kami semua juga sibuk bergerak lari-lari ke depan kelas, bahkan ada yg sampai loncat kursi kemudian lari-lari cepat ke meja guru, dan setelah sampai meja guru juga harus berdempet-dempetan lagi berusaha meletakkan bukunya ke atas meja, mendadak kami semua memiliki tangan yg lebih panjang dari biasanya. Kalau sudah berebutan seperti itu, bahkan buku kami bisa sampai tak berbaju semua, sampulnya rata-rata sudah robek. Aku pernah sampai harus lari buru-buru ke depan hingga akhirnya sampul bukuku robek, dan ketika aku mau balik untuk kembali ke tempat dudukku sudah banyak temanku yang berebutan untuk meletakan bukunya ke atas meja, sehingga sulit bagiku untuk kembali ketempat dudukku, aku sampai terhimpit dan akhirnya terjongkok dibawah, demi apapun sulit sekali buat bergerak, tapi itu seruuuu.

Pertengahan tahun 2015, aku memasuki kelas XI SMA. Dimasa itu, lebih banyak lagi kisah yang bisa kukenang mengenai teman sekelasku. Bagiku, masa-masa ini adalah masa paling indah dari keseluruhan masa SMA ku. 

Komentar