Flore si Pelupa


Jadi, ini adalah cerpen pertama aku yang pernah aku ceritakan sebelumnya dipostingan aku yang lalu-lalu.

Flore Si Pelupa
Berantakan,seperti itulah keadaan kamar Flore saat ini. Di atas tempat tidurnya terdapat bantal ,boneka dan beberapa buku yang berserakan,juga selimutnya yang  tak terlipat.Tak hanya di tempat tidur,di lantai kamarnya pun berserakan berbagai macam buku dan alat tulis seperti pensil,pulpen, penghapus dan penggaris. Meja belajarnya pun sama berantakkannya dengan lantai dan tempat tidurnya. Bukannya tak mau merapikannya,biasanya setiap pagi Flore selalu merapikan kamarnya dan tempat tidurnya. Namun kali ini,semuanya berantakan. Penyebab semua ini terjadi adalah karena Flore lupa. Flore lupa dimana ia meletakkan kotak merah berisi buku yang akan dihadiahkannya kepada sahabatnya yang bernama Lilind. Sebenarnya,ulang tahun Lilind dirayakan pada hari Senin,dua hari yang lalu.Namun,waktu itu Flore lupa membawa hadiahnya. Besoknya di hari Selasa ,Flore berniat memberikannya di sekolah,namun lagi-lagi dia lupa. Hari ini hari Rabu,dan tadi pagi Flore lupa lagi membawanya.Dia baru mengingatnya pada saat pulang sekolah, dan disaat itulah Flore sadar hadiahnya hilang dan tidak ada lagi di kamarnya.
Sudah hampir dua jam Flore mencari-cari dimana keberadaan kotak merah itu,namun hingga sekarang kotaknya belum ditemukan. Flore sudah hampir putus asa,namun rasa putus asanya masih terkalahkan oleh tekadnya yang kuat untuk menemukan kotak merah itu. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul tujuh malam,Flore bergegas mandi lalu pergi makan.
Usai makan,Flore kembali mencari kotak itu. Bukan hanya di kamarnya,kali ini dia mencarinya disekeliling bagian dalam rumahnya.Namun tetap saja kotak merah itu tidak ditemukan. Akhirnya Flore berhenti mencarinya,dia sudah sangat lelah dan putus asa.Dengan wajahnya yang terlihat murung dan letih karena lelah mencari kotak merah itu berjam-jam,Flore berjalan ke ruang keluarga. Hanya ada Ibu yang duduk di salah satu sisi sofa disana. Ibu yang melihat wajah anaknya tidak seceria biasanya dengan lembut bertanya kepadanya.
“Flore,ada apa? Mengapa wajahmu murung begitu,nak?”
“Kotak merah yang berisi hadiah untuk Lilind hilang,Bu.” Flore menjawabnya dengan murung.
“Bagaimana bisa,nak? Apa kamu sudah cari dengan teliti?”
“Sudah,Ibu. Flore sudah lelah mencarinya sejak tadi siang di kamar Flore,namun tidak ada.”
“Flore yakin kotaknya benar-benar tidak ada?”
“Iya,Ibu. Bagaimana ini,Bu? Hadiahnya hilang,padahal aku sudah janji akan memberikan hadiah ulang tahun kepada Lilind.”
“Kalau begitu,sebaiknya Flore jujur saja kepada Lilind,sekalian Flore minta maaf karena tidak menepati janji.” dengan bijak Ibu menasihati Flore.
“Baiklah,Bu. Besok Flore akan jujur kepada Lilind. Kalau begitu,Flore ke kamar dulu,mau merapikan kamar Flore yang berantakan.”
“Baiklah,setelah itu kamu tidur ya,sudah malam.” jawab Ibu dengna lembut kepada Flore.
“Baik,Bu”
Flore bergegas ke kamarnya,lalu membereskan segala kekacauan yang dibuatnya tadi hingga kamarnya rapi kembali. Setelah itu Flore pun tidur.
Keesokannya,sesampainya di sekolah Flore bergegas ke kelasnya. Disana dia melihat bahwa Lilind sedang duduk di kursinya sambil membaca. Flore pun menghampirinya. Kemudian ia  menceritakan dengan sejujurnya bahwa hadiah yang akan diberikannya ke Lilind telah hilang. Usai menjelaskan semuanya,Lilind yang mendengar penjelasan Flore tiba-tiba tertawa.Flore pun bingung,dan bertanya kenapa Lilind tertawa.
“Kamu ini kenapa terlalu pelupa sih,Flore? Kan hari Selasa kemarin,aku datang ke rumah kamu untuk mengerjakan PR bersama-sama dengan kamu.Dan sewaktu aku mau pulang,kamu sendiri yang kasih ke aku kotak merahnya.Kamu lupa ya?” jawab Lilind yang merasa geli melihat kelakuan Flore.
“Masa iya? Seriusan kamu Lind? Hadiahnya sudah aku kasih ke kamu?”
“Iya,Flor. Bahkan aku udah baca bab pertama buku hadiah dari kamu itu. Kamu ini sudah seperti nenek aku saja,tua dan pelupa. Padahal kamu belum tua,loh.”
Flore berusaha mengingat-ingat kejadian tersebut. Kemudian,akhirnya dia ingat bahwa dia sendiri yang kasih kotak itu ke Lilind pada hari Selasa kemarin. Flore akhirnya tersenyum malu-malu karena begitu pelupa.
“Bagaimana? Kamu sudah ingatkan Flore? Kamu ini,masih muda tapi sudah pelupa seperti itu. Lain kali jangan ceroboh seperti itu. Kan kamu sendiri yang susah jadinya. Belajarlah untuk mengingat semuanya dengan benar dan jangan mudah lupa begitu,Flor.”
“Iya,iya. Aku akan berusaha untuk tidak menjadi ceroboh dan pelupa lagi.”
Lilind mengangguk sambil tersenyum menanggapi perkataan Flore. Dia berharap sahabatnya ini tidak akan mengulangi hal yang sama seperti ini lagi. Dia ingin Flore menjadi orang yang tidak pelupa dan ceroboh lagi.

Komentar