Aku, kamu, dan sebuah perpisahan


Aku, aku layaknya sang katak yang menanti hujan ditengah musim yang kekeringan
Aku layaknya sebuah kepompong yang menanti untuk menjadi seekor kupu-kupu nan indah
Aku layaknya sang bulan dan sang bintang yang selalu menanti matahari untuk tenggelam
Aku, aku yang selalu menantimu


Dulu, terucap padaku bahwa kau hanya pergi sementara saja
Dulu, terucap padaku bahwa kau takkan lama
Dulu, kau katakan kau akan kembali untukku
Tapi, itu dulu


365 hari ku dalam setahun, kuhabiskan untuk menanti dirimu
Berusaha keras untuk tidak terlalu mengkhawatirkanmu
Berusaha keras untuk selalu berpikir kau baik-baik saja
Berusaha keras menahan rindu didalam diriku sedalam-dalamnya
Berusaha keras untuk bersabar


Kukira hanya itu, kukira hanya selama itu
Nyatanya aku salah
Kau pergi bukan hanya untuk sekali putaran musim kemarau dan musim hujan
Kau pergi untuk berkali-kali putaran musim
Kau pergi dan hilang tanpa setangkai kabar darimu


Aku rela, aku tak apa
Aku akan tetap tersenyum secerah sang mentari pagi
Aku akan tetap tersenyum seindah cahaya sang purnama
Aku akan tetap tersenyum walau jutaan pisau menggores hatiku


Tak apa jika memang kau ingin pergi
Tak apa jika memang kau tak mampu bersamaku lagi
Tak apa jika itu inginmu


Tapi setidaknya, tak bisakah ku dapat setitik kabar darimu?
Setidaknya, tak bisakah ku dapatkan selembar penjelasan darimu?
Tak bisakah ku dapatkan sebuah selamat tinggal yang langsung terucap oleh dirimu?
Tak bisakah kau kembali sejenak hanya untuk pamit pergi dan tak kembali lagi padaku?
Tak bisakah kau lakukan itu?


Kembalilah, walau hanya untuk sebentar saja
Kembalilah, walau kau tak bisa menetap lagi
Halo kamu, kembalilah
Kembalilah, walau hanya untuk pamit pergi lagi
Kembalilah, ini untuk yang terakhir kalinya
Kembalilah untuk sejenak saja 
Katakanlah padaku bahwa kau  tak akan kembali lagi
Katakan padaku bahwa ini yang terakhir
Halo kamu, kembalilah untuk sebuah selamat tinggal terakhir


Komentar