Aku dan dia


Lihat, dia yang selama ini telah berjuang,
dia yang selama ini telah berusaha mati-matian demi sebuah perhatian darimu,
kini akhirnya dia mundur,kini dia jenuh.
Mungkin batas sabarnya telah habis,
mungkin hanya sejauh ini saja dia mampu memaklumimu,
mungkin dia sudah terlalu lelah atas segala usaha yang hampir semua sia-sia.


Ya, aku melihatnya, aku lihat dia.
Aku melihat dia mulai berhenti,
aku melihat dia mulai memutar kemudinya ke arah yang lainnya.
Aku melihat bahwa dia kecewa,
ya, dia benar-benar kecewa terhadapku, terhadap semua kelakuanku.
Tapi, tidakkah ini aneh bagimu?
Dia selalu mengatakan betapa tulusnya dia,
betapa dirinya menyayangiku, betapa kasihnya dia terhadapku.
Tapi, tidakkah kau pernah memikirkan hal yang sama seperti yang kupikirkan ini?
Jika memang itu ketulusan, 
jika memang sayang itu nyata adanya,
jika memang kasih itu mengalir terhadapku,
Pantaskah dia mengatakan bahwa kesabarannya telah habis terhadapku?
Aku telah berusaha semampuku.
Bukan, aku bukan ingin membela diriku dan menyalahkannya atas semuanya.
Tapi, aku tak selamanya patung.
Usahanya mengetuk pintu rumah hatiku cukup kuat,
begitu kuatnya hingga terbuka sedikit celah.
Tapi kini, kutemukan dia meragu dan berbalik arah.
Jika semua rasanya terhadapku adalah sebuah kebenaran, nyata adanya, tulus darinya,
maka yang seperti dilakukannya tak mungkin terjadi.
Jika kau katakan batas sabarnya telah habis,
jika kau katakan dia sudah terlalu jenuh sehingga dia berpaling,
lalu, bagaimana kau bisa menjelaskan pasangan yang masih bahagia hingga masa tuanya?
Bagaimana kau akan menjelaskan kepadaku akan dua insan yang masih saling menyayangi satu sama lain dengan begitu tulusnya hingga Tuhan memanggil mereka kembali pada-Nya?
Kutanyakan padamu, bagaimana bisa?
Apakah kau akan berpikir bahwa perjalanan hati mereka selama ini begitu tenangnya tanpa hempasan ombak?
Kutanyakan sekali lagi kepadamu, bagaimana bisa?
Begini, akan kukatakan kepadamu.
Jika semua orang menanamkan sabar dengan sebuah batas dalam dirinya,
jika semua orang menanamkan jenuh dalam ketulusan dan dalam sayang,
maka ini yang akan terjadi, dimanapun di dunia ini, kau takkan pernah menemukan dua insan yang masih berbahagia dengan setiap rasa sayang dan ketulusan hingga saat Tuhan memanggil mereka.


Komentar