Friendship


Sebuah pertemanan yang tak pernah disangka terjadi. Ya, siapa yang tau tentang detik-detik berikutnya yang akan kita lalui di hidup ini. Sesuatu yang tampak tak sengaja itu menjadi sesuatu yang berarti dan sulit dilepas untuk saat ini. Sesuatu yang tampak tak sengaja itu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan sekaligus menyedihkan untuk dikenang.

Memang benar, memang Tuhanlah yang memulai segalanya. Karena-Nya kita bertemu, karena-Nya kita berteman, karena-Nya kita seperti keluarga.

Bersyukur. Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.
Aku bersyukur setiap kali aku mengingat kita semua dan segala kisah yang telah kita lalui.


Tiga tahun lalu, adalah percakapan pertama yang tak pernah disangka menjadi sebuah awal untuk semua kisah-kisah selanjutnya yang terjadi. Sekian lama hidup di lingkungan yang sama, tak berarti membuat kita begitu dekat. Mungkin, sekitaran 9 tahun lalu itu adalah dialog pertama dan terakhir kita, tanpa tahu bahwa 5 tahun kemudian, kita berdialog lagi. Dialog yang tak pernah kita sangka akan menciptakan sebuah alunan cerita hidup yang begitu banyak mengandung rasa.

Canggung, awal mulanya semua terjadi. Yang tadinya hanya diam, seiring berlalunya setiap hari berganti, yang kita sebut kecanggungan itu berubah menjadi canda tawa yang mengalir lepas begitu saja seperti saatnya turun hujan ke bumi ini,tanpa hambatan berarti disetiap perjalanannya. Hari demi hari berlalu, cerita dari setiap sisi yang kita miliki mulai mengalun begitu saja bagaikan sebuah lagu tanpa henti. Berbagi setiap pengalaman, setiap kisah yang pernah dilalui. Berbagi setiap ketertarikan akan setiap hal yang dimiliki. Seringan daun berguguran dari pohonnya, seringan itulah semuanya terjadi.

Tak selamanya kebahagiaan itu akan ada. Ya, kalimat itu benar adanya. Kita, tak selamanya menjalani pertemanan bahagia. Tiba saatnya kesedihan itu ada. Satu persatu, rintangan mulai menampakan dirinya. Mulai menunjukan bahwa ia ada disekitar kita, menanti saat yang tepat untuk muncul. Kita terpisahkan oleh setiap kata setiap kalimat yang tersembunyi sedikit nada amarah dan nada kekecewaan didalamnya. Kita terpisahkan oleh sebuah perasaan yang merusak segala merah muda, menjadi suasana biru. Kita terpisahkan layaknya seorang yang tak kenal satu sama lain. Kita layaknya sekumpulan orang asing yang bertemu dan bercengkrama dalam satu tempat. Kita canggung kembali.

Tapi, ingat kembali. Tuhanlah yang mengatur skenarionya. Karena-Nya kita bertemu, karena-Nya kita berteman, karena-Nya kita seperti keluarga.

Kita kembali. Tali yang sempat terputus itu kini kembali. Tapi kini, ada rintangan lain lagi yang menampakan diri. Jarak. Ya, kali ini jarak menjadi masalahnya. Kita dengan setiap rencana dan impian kita, tak lupa ada Tuhan dengan setiap rencananya dan impian yang dia sediakan untuk kita. Disaat canggung itu mulai terhapus, jarak ada untuk memisahkan kita. Pilu. Memang memilukan. Tapi siapalah kita yang tak mampu memaksakan segala kehendak kepada setiap hal.

Tapi, tunggu. Tuhan tidak sejahat itu. Dia baik, bahkan tak pernah berlaku jahat bagi umat kesayangan-Nya. Kita tetap dipersatukan. Dalam sebuah kelompok kecil, kita dipersatukan layaknya keluarga.

Mungkin, ini hanya kekeliruanku saja, atau memang telah ada yang berbeda diantara kita yang dahulu selalu tertawa seperti turunnya hujan ke bumi ini. Tapi, tak mengapa kita tetap bersama.

Dan memang, tak selamanya kebahagiaan dipihak kita. Kini, kita diperhadapkan dengan sebuah perpisahan yang lebih berat. Dan tak satupun dari antara kita yang memiliki sebuah petunjuk kapan kiranya perpisahan itu terjadi. Mungkin, bila saat itu kembali, tak banyak keyakinan yang kugenggam mengenai bagaimana kisah kita selanjutnya. Teringat bahwa diantara kelompok kecil itu, ada sedikit kecanggungan yang kita simpan didalam diri kita. Tapi, tak hanya sebagian, namun seluruh bagian dari diriku menginginkan kecanggungan itu sirna, dan kita akan baik-baik saja melalui setiap detik yang masih diberikan Tuhan untuk kita genggam dalam tangan kita. Aku harap, masih tetap ada tawa bahagia itu di hari-hari kita berikutnya, bahkan hingga hari-hari terakhir mata ini dapat menyaksikan betapa ajaibnya setiap kisah yang Tuhan ciptakan pada diri kita masing-masing.





Komentar