- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sebuah pertemanan yang tak pernah disangka terjadi. Ya,
siapa yang tau tentang detik-detik berikutnya yang akan kita lalui di hidup
ini. Sesuatu yang tampak tak sengaja itu menjadi sesuatu yang berarti dan sulit
dilepas untuk saat ini. Sesuatu yang tampak tak sengaja itu menjadi sesuatu yang
sangat menyenangkan sekaligus menyedihkan untuk dikenang.
Memang benar, memang Tuhanlah yang memulai segalanya. Karena-Nya
kita bertemu, karena-Nya kita berteman, karena-Nya kita seperti keluarga.
Bersyukur. Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali
aku mengingat kamu.
Aku bersyukur setiap kali aku mengingat kita semua dan segala kisah yang telah
kita lalui.
Tiga tahun lalu, adalah percakapan pertama yang tak pernah
disangka menjadi sebuah awal untuk semua kisah-kisah selanjutnya yang terjadi. Sekian
lama hidup di lingkungan yang sama, tak berarti membuat kita begitu dekat. Mungkin,
sekitaran 9 tahun lalu itu adalah dialog pertama dan terakhir kita, tanpa tahu
bahwa 5 tahun kemudian, kita berdialog lagi. Dialog yang tak pernah kita sangka
akan menciptakan sebuah alunan cerita hidup yang begitu banyak mengandung rasa.
Canggung, awal mulanya semua terjadi. Yang tadinya hanya
diam, seiring berlalunya setiap hari berganti, yang kita sebut kecanggungan itu
berubah menjadi canda tawa yang mengalir lepas begitu saja seperti saatnya
turun hujan ke bumi ini,tanpa hambatan berarti disetiap perjalanannya. Hari demi
hari berlalu, cerita dari setiap sisi yang kita miliki mulai mengalun begitu
saja bagaikan sebuah lagu tanpa henti. Berbagi setiap pengalaman, setiap kisah
yang pernah dilalui. Berbagi setiap ketertarikan akan setiap hal yang dimiliki.
Seringan daun berguguran dari pohonnya, seringan itulah semuanya terjadi.
Tak selamanya kebahagiaan itu akan ada. Ya, kalimat itu
benar adanya. Kita, tak selamanya menjalani pertemanan bahagia. Tiba saatnya
kesedihan itu ada. Satu persatu, rintangan mulai menampakan dirinya. Mulai menunjukan
bahwa ia ada disekitar kita, menanti saat yang tepat untuk muncul. Kita terpisahkan
oleh setiap kata setiap kalimat yang tersembunyi sedikit nada amarah dan nada
kekecewaan didalamnya. Kita terpisahkan oleh sebuah perasaan yang merusak
segala merah muda, menjadi suasana biru. Kita terpisahkan layaknya seorang yang
tak kenal satu sama lain. Kita layaknya sekumpulan orang asing yang bertemu dan
bercengkrama dalam satu tempat. Kita canggung kembali.
Tapi, ingat kembali. Tuhanlah yang mengatur skenarionya. Karena-Nya
kita bertemu, karena-Nya kita berteman, karena-Nya kita seperti keluarga.
Kita kembali. Tali yang sempat terputus itu kini kembali. Tapi
kini, ada rintangan lain lagi yang menampakan diri. Jarak. Ya, kali ini jarak
menjadi masalahnya. Kita dengan setiap rencana dan impian kita, tak lupa ada
Tuhan dengan setiap rencananya dan impian yang dia sediakan untuk kita. Disaat canggung
itu mulai terhapus, jarak ada untuk memisahkan kita. Pilu. Memang memilukan. Tapi
siapalah kita yang tak mampu memaksakan segala kehendak kepada setiap hal.
Tapi, tunggu. Tuhan tidak sejahat itu. Dia baik, bahkan tak
pernah berlaku jahat bagi umat kesayangan-Nya. Kita tetap dipersatukan. Dalam sebuah
kelompok kecil, kita dipersatukan layaknya keluarga.
Mungkin, ini hanya kekeliruanku saja, atau memang telah ada
yang berbeda diantara kita yang dahulu selalu tertawa seperti turunnya hujan ke
bumi ini. Tapi, tak mengapa kita tetap bersama.
Dan memang, tak selamanya kebahagiaan dipihak kita. Kini,
kita diperhadapkan dengan sebuah perpisahan yang lebih berat. Dan tak satupun
dari antara kita yang memiliki sebuah petunjuk kapan kiranya perpisahan itu
terjadi. Mungkin, bila saat itu kembali, tak banyak keyakinan yang kugenggam
mengenai bagaimana kisah kita selanjutnya. Teringat bahwa diantara kelompok
kecil itu, ada sedikit kecanggungan yang kita simpan didalam diri kita. Tapi,
tak hanya sebagian, namun seluruh bagian dari diriku menginginkan kecanggungan
itu sirna, dan kita akan baik-baik saja melalui setiap detik yang masih
diberikan Tuhan untuk kita genggam dalam tangan kita. Aku harap, masih tetap
ada tawa bahagia itu di hari-hari kita berikutnya, bahkan hingga hari-hari
terakhir mata ini dapat menyaksikan betapa ajaibnya setiap kisah yang Tuhan
ciptakan pada diri kita masing-masing.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar